Thursday, November 5, 2009

Senja Di Balik Murung Ku

Dan kembali aku berduka,
dan kembali aku mencari makna,
sebuah ketiada'an diri,

dari bilik kamarku, aku mulai melukis wajahmu
dengan setetes embun pagi
ku sulam semua indah parasmu sayank.

duka ini terasa perih,
dengan segala janji yang kau patri di hatiku
dengan tabur senyum yg kau siramkan pada tiap malamku

hai durjana,
adakah kelabu dalam pekat semua ini
pada duka yg menyusup rongga hidupku,

dan aku mulai menapak pada padang kurusetra
dan kemudian aku labuhkan jemari kaki ku
tepat melewati Majma Al Bahrain
kemudian aku menyusuri jejak Musa
hingga pandangku menembus bukit Tursina
dan kemudian aku langkahkan kaki gontai
menuju Makam prajurit Allah,

senja itu terasa murung, hingga pengap
menusuk selangkangan jiwa,

kemudian aku bertanya,
adakah makna2 ketika kau terpendar oleh keta'adaan
tak ada sedikitpun jawab dari semua tanya
semua berlalu,
dan kudengar lewat mimpi muramku
segeralah bangkit oleh keta'adaan

tak usah kau risau akan semua kedzoliman
semua adalah tirai penghubung antara"AKU dengan mu
Ya Rob, bangunkan sadarku sa'at ini
aku tlah pingsan oleh wajah2 cantik dunia,
wajah cantik penebar janji......
Ya Rob, sekali lagi tenggelamkan semua dukai ini,
balas lah dengan bala' mu
seperti kau tenggelamkan kaum Nuh dengan tangan Mu

Ya Rob, di balik murungku ini,
adakah cerita2 yg belum kau sampaikan untuk ku

Ya Rob, kirimkanlah seribu malaikatmu pada tiap malamku
kirimkan jingga bidadari tercantik Mu untuk ku.....


Ruang Pengap Oct 2009

No comments: