Kepada engkau temaram kelam,
sayup menderu biru;
hinggap kesunyian mendera,
Apakah itu samsara nan luka
Langsat kulit bumi,
enggan berpijak pada nilai,
tahukah engkau kerdil sa'at ini
ketika sangkala menghampirimu
Aku dengar jerit kesakitan,
Serukan nama-Mu wahai Tuhan-ku
Tahukah, kemana kau kan lari,
hingga jerit, tawa tak terdengar,
hanya goresan lewat tinta cintamu
yang 'kan menyelamatkamu,
Kepada engkau tuan maha bijak
bersegeralah ............
woody wood
Wednesday, December 5, 2007
Tuesday, June 19, 2007
Karena Aku pengecut
Semoga kau tak jenuh akan rintihku,
Karena aku pengecut,
Harapku kau kan slalu mengukungku
Karna kau mamilikiku,
Inginku kau selalu menyapaku,
Karna kau penunjuk jalan Ku
Jangan kau buramkan pandangku,
Karna ku takut akan murkamu,
Samarkan saja aku tentang ketiadaan
Karna ‘ku kan tenggalam dlm kalam Mu’
Tuhan memang aku pengecut,
Aku memang penakut akan siksamu
Karna ku tak mampu……….?
Ruang Hampa '07
Karena aku pengecut,
Harapku kau kan slalu mengukungku
Karna kau mamilikiku,
Inginku kau selalu menyapaku,
Karna kau penunjuk jalan Ku
Jangan kau buramkan pandangku,
Karna ku takut akan murkamu,
Samarkan saja aku tentang ketiadaan
Karna ‘ku kan tenggalam dlm kalam Mu’
Tuhan memang aku pengecut,
Aku memang penakut akan siksamu
Karna ku tak mampu……….?
Ruang Hampa '07
Monday, June 18, 2007
BE THE BEST OF WHAT EVER YOU ARE
If you can't be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley - But be
The best little scrub by the side of the hill.
Be a bush if you can't be a tree.
If you can't be a bush - be a bit of the grass,
Some highway happier make;
If you can't be a muskie, then just be a bass-
But the livliest bass in the lake.
We can't all be captains, we've got to be crew.
There's something for all of us here,
There's big work to do, and there's lesser to do.
And the task we must do is the near.
If you can't be a highway, then just be a trail.
If you can't be the sun, be a star.
It isn't by size that you win or you fail-
Be the best of whatever you are!
© Douglas Malloch
this is the moral massage we can take from this poem
' Just be the best of what ever you are '
Thursday, June 14, 2007
Sang Guru Sufi
Maulana Jalalludin Rummi ( The Great Darwis )
Engkau adalah matahari,
Kala engkau Terbit,
Maka Aku kan tenggelam.
Engkau adalah matahari,
Kala engkau Terbit,
Maka Aku kan tenggelam.
Kepada Malam
Hari ini masih sama seperti setahun kemarin,
Kau masih lemparkan senyum manismu,
“Duhai Wanitaku”.
Just for You My Sweet Lady Jane
Kau masih lemparkan senyum manismu,
“Duhai Wanitaku”.
Just for You My Sweet Lady Jane
Short Massage
Seketika air bah menerjang tanpa henti,
Ada jerit , ada tangis bayi, aku dengar kata Tuhan
Aku kirim sedikit murkaku jawab ‘Nya
Trima atau tidak bukan hakmu ‘tuk menolak,
Aku hanya kirim sedikit pesanku untukmu
Wahai penebar dosa………
18/05/07 ( Ruang Pengap )
Ada jerit , ada tangis bayi, aku dengar kata Tuhan
Aku kirim sedikit murkaku jawab ‘Nya
Trima atau tidak bukan hakmu ‘tuk menolak,
Aku hanya kirim sedikit pesanku untukmu
Wahai penebar dosa………
18/05/07 ( Ruang Pengap )
Hujan Awal Mei
Bersama angin kau titipkan rindumu,
Benar jawabmu,
Sama seperti awan yang mulai tertunduk lesu
Mungkin tau, kau akan menelanjangi gumpalan awan putih itu
Meniadakan segala harapmu,
Tapi tidak, justru ini yang aku harapkan,
benamkan hingga sirna bayang di pelipis khayalmu
Bersama mendung-mendung kau campakan tangisku
Benar jawabmu,
Ach aku bosan dengan ucapmu,
Hujan,…..betul aku sadar, tenggelamkan saja mimpi-mimpiku bersamamu
Hempuskan, biar semua punah
Hujan ini tak seperti biasa, benar tak seperti tahun kemarin,
Bukan ini yang ku harapkan bisik dedauanan
Ach apalagi ini, guyonan rakit-rakit yang malang
Meniadakan yang memang tiada,
Awal yang aku tunggu mungkin telah lewat,
Seperti tangis-tangis pilu hari itu,
Ach biar….biar aku nikmati saja.
Dan pasti akan ‘ku tunggu……
Ya pasti kan ku tunggu….
Pantai Bom 17/05/07
(ketika kau asyik bercanda denganya,maka aku lemparkan tulisan ini untukmu)
Benar jawabmu,
Sama seperti awan yang mulai tertunduk lesu
Mungkin tau, kau akan menelanjangi gumpalan awan putih itu
Meniadakan segala harapmu,
Tapi tidak, justru ini yang aku harapkan,
benamkan hingga sirna bayang di pelipis khayalmu
Bersama mendung-mendung kau campakan tangisku
Benar jawabmu,
Ach aku bosan dengan ucapmu,
Hujan,…..betul aku sadar, tenggelamkan saja mimpi-mimpiku bersamamu
Hempuskan, biar semua punah
Hujan ini tak seperti biasa, benar tak seperti tahun kemarin,
Bukan ini yang ku harapkan bisik dedauanan
Ach apalagi ini, guyonan rakit-rakit yang malang
Meniadakan yang memang tiada,
Awal yang aku tunggu mungkin telah lewat,
Seperti tangis-tangis pilu hari itu,
Ach biar….biar aku nikmati saja.
Dan pasti akan ‘ku tunggu……
Ya pasti kan ku tunggu….
Pantai Bom 17/05/07
(ketika kau asyik bercanda denganya,maka aku lemparkan tulisan ini untukmu)
Sahabat
Kau terlalu dini tuk pergi saat ini
Ketika semua mata menoleh padamu
Kau terus berlalu,
Dengan sejuta luka kau melangkah,
Aku tau terasa pedih saat itu,
Hingga kau tak lagi sempat ucapkan salammu
Dan aku tau kebencian terkadang usang tuk
Sekedar melintas pada malam sepimu,
Sudahlah sahabat, mungkin jalan kembali rerlalu
Suram tuk kau lalui,
Hingga pada saat-saat kau tak mau lagi
‘tuk sekedar singgah pada kota ini.
Ruang Pengap 15-05-07 ; 03:02 ( Just 4 u Friend )
Ketika semua mata menoleh padamu
Kau terus berlalu,
Dengan sejuta luka kau melangkah,
Aku tau terasa pedih saat itu,
Hingga kau tak lagi sempat ucapkan salammu
Dan aku tau kebencian terkadang usang tuk
Sekedar melintas pada malam sepimu,
Sudahlah sahabat, mungkin jalan kembali rerlalu
Suram tuk kau lalui,
Hingga pada saat-saat kau tak mau lagi
‘tuk sekedar singgah pada kota ini.
Ruang Pengap 15-05-07 ; 03:02 ( Just 4 u Friend )
Satu Episode ( Mei '06 )
Deru Ombak itu terus mengusik mimpiku
Hampir, hampir tiap malam,
Kadang wajah-wajah yang sama,
Kadang hanya bayangan,
Bahkan terlalu usil dengan mimpiku,
Hem aku tau, pikiran kosong yang kau tamparkan,
Tepat saat aku terbangun dari ketiadaan
Kusut, semua absurd tak tau dari mana asal-muasal
Aku selalu sama,terlalu sibuk memikirkan mimpi-mimpi
Pada bintang-bintang yg mulai malas ‘tuk menyapaku
Pada terang purnama yg selalu angkuh tuk sekedar berbagi,
Dan terlebih pada ombak malam itu,
Selalu mengekang kesadaranku,
Selalu dan pasti usil padaku
Aku memang telalu tenggelam pada deruanmu
Hingga sayap kecintaanku punah,
Hampir,hampir setiap malam, aku selalu
Menunggu ocehanamu
Pada malam yang sama,
Pada detik yang sama, kau selalu memasungku.
pada episode yang tak pernah berubah.
Ruang Pengap ‘ ( 15/05/07 01:45 )
Hampir, hampir tiap malam,
Kadang wajah-wajah yang sama,
Kadang hanya bayangan,
Bahkan terlalu usil dengan mimpiku,
Hem aku tau, pikiran kosong yang kau tamparkan,
Tepat saat aku terbangun dari ketiadaan
Kusut, semua absurd tak tau dari mana asal-muasal
Aku selalu sama,terlalu sibuk memikirkan mimpi-mimpi
Pada bintang-bintang yg mulai malas ‘tuk menyapaku
Pada terang purnama yg selalu angkuh tuk sekedar berbagi,
Dan terlebih pada ombak malam itu,
Selalu mengekang kesadaranku,
Selalu dan pasti usil padaku
Aku memang telalu tenggelam pada deruanmu
Hingga sayap kecintaanku punah,
Hampir,hampir setiap malam, aku selalu
Menunggu ocehanamu
Pada malam yang sama,
Pada detik yang sama, kau selalu memasungku.
pada episode yang tak pernah berubah.
Ruang Pengap ‘ ( 15/05/07 01:45 )
Romansa
Ada sedikit yg nancap pada otak kesadaranku
Romansa atau luka………?
Hemm gombal semua hanya tipu belaka
Yang ada hanya prahara,
Lewat suara-suara parau yang kau kirim lewat ponselmu
Aku merasa sumua hanya bualan
Seperti malam-malam yang tlah usang,
Kau tawarkan madu birahimuHampir-hapir saja aku mati, pasti kau ‘kan tersenyum saat itu
Romansa atau luka………?
Hemm gombal semua hanya tipu belaka
Yang ada hanya prahara,
Lewat suara-suara parau yang kau kirim lewat ponselmu
Aku merasa sumua hanya bualan
Seperti malam-malam yang tlah usang,
Kau tawarkan madu birahimuHampir-hapir saja aku mati, pasti kau ‘kan tersenyum saat itu
Secangkir Kopi Bersama "Tuhan"
Paruh mata senyap pada hening malam,
Kelam hanya kalam hanyutkan buaian,
Satu persatu dendang terlewatkan
Lalu datang dan bergumam,
Kepada siapa kau haturkan nyanyian itu,
Apakah raga atau kah jiwa kering kau pamerkan
Bukan jawabku,aku hanya ingin berdua dengan ‘Mu
Hidangkan secangkir kopi hitam pekat,
Entah sampai kapan, pujian-pujian ini ‘ku haturkan
Hanya pada ‘Mu,
Sampai esok, entah sampai kapan
Kalam-kalam ini ku haturkan.
Ruang Pengap ‘07
Kelam hanya kalam hanyutkan buaian,
Satu persatu dendang terlewatkan
Lalu datang dan bergumam,
Kepada siapa kau haturkan nyanyian itu,
Apakah raga atau kah jiwa kering kau pamerkan
Bukan jawabku,aku hanya ingin berdua dengan ‘Mu
Hidangkan secangkir kopi hitam pekat,
Entah sampai kapan, pujian-pujian ini ‘ku haturkan
Hanya pada ‘Mu,
Sampai esok, entah sampai kapan
Kalam-kalam ini ku haturkan.
Ruang Pengap ‘07
Subscribe to:
Posts (Atom)