tak lama aku tinggalkan kepenatan sa'at itu,
sama seperti dulu,
riang manja menjajakan aneka ragam warna,
dari satu bedak ke bedak yang lain
aku lemparkan senyum
paras ayu sang penjaja dengan senyum harap,
tau kah engkau waktu itu.....?
aku seperti bocah-bocah lugu
dengan bakul di atas kepala,
menjajakan aneka warna,
ada keluh, ada rasa brontak
entah semua bagian dari pena kelamku sa'at itu.
kemudian ibu memanggil, kau tak mau seperti diriku ?
aku menangis akan harap, tak satu kata terlontar sa'at itu
dan aku tetap lalu dengan punggung merah karna ronta.
lalu datang sang pendana,
dengan coretan tinta aneka warna,
aku hanya melihat, ada pekat nyala dalam diri ibu,
aku hanya menerka, apakah itu....??
kemudian dia pergi dengan melempar coretan,
aku menghampirinya dg seribu tanya,
kemudian menyeka luka tanpa tanya,
aku tak kan pernah tau apa yang terjadi,
ma'af ibu aku tak mampu sa'at itu...........
Ruang Pengap / Tuban, February' 2008
( mam i owe you many thing )
Monday, February 25, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
Is this a true story of your childhood? Your mom must be a great woman!
Post a Comment